Ringkasan :
- Festival Lamaholot 2025 berlanjut meriah di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata. Salah satu sorotan utamanya adalah Dapur Alam Ina Kar, fenomena alam unik berupa lubang panas bumi yang digunakan masyarakat setempat untuk memasak.
- Rombongan dari Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama Pemkab Lembata dan tokoh adat melakukan kunjungan langsung ke lokasi, disambut tarian tradisional dan prosesi adat khas Lamaholot.
- Plt. Direktur Utama BPOLBF, Dwi Marhen Yono, menyebut Dapur Alam Ina Kar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata unggulan berbasis budaya dan geowisata.
Ringkasan ini dihasilkan dengan AI
WartaPesona.com - Festival Lamaholot 2025 menjadi ajang besar yang menyoroti keindahan budaya dan kekayaan alam Nusa Tenggara Timur (NTT).
Setelah pembukaan yang berlangsung meriah pada 7–9 Oktober 2025, rangkaian festival berlanjut di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata.
Salah satu destinasi unggulan yang menjadi sorotan publik adalah Dapur Alam Ina Kar — fenomena alam unik berupa lubang panas bumi yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat untuk memasak tanpa menggunakan api maupun kompor.
Tradisi memasak di lubang panas ini bukan sekadar atraksi wisata, tetapi juga ritual budaya yang sarat makna.
Setiap tahun, warga Desa Atakore melakukan upacara syukur panen dan memanjatkan doa untuk musim tanam berikutnya di lokasi tersebut.
Baca Juga: Labuan Bajo Lebih Bersih: BPOLBF Rutin Gelar Gerakan Wisata Bersih Setiap Jumat
Lubang alami itu menghasilkan panas yang cukup untuk “memasak” berbagai bahan makanan — mulai dari ubi, jagung, hingga daging — hanya dengan membungkusnya menggunakan daun dan menutupnya dengan jerami serta batu. Setelah 2–3 jam, hidangan matang dengan aroma dan cita rasa yang khas.
Kunjungan Penuh Warna ke Desa Atakore
Kunjungan ke Dapur Alam Ina Kar kali ini dihadiri langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Dwi Marhen Yono, bersama rombongan dari Pemerintah Kabupaten Lembata.
Rombongan disambut hangat oleh masyarakat dan tokoh adat Desa Atakore melalui penjemputan adat khas Lamaholot lengkap dengan tarian penyambutan.
Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir, juga turut hadir mendampingi kunjungan tersebut bersama Asisten II Setda, Kepala Dinas Pariwisata, dan tokoh adat setempat.
Dalam sambutannya, Nasir menegaskan bahwa Dapur Alam Ina Kar adalah aset budaya yang harus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan. Ia menuturkan bahwa kekayaan adat seperti ini mampu menarik perhatian wisatawan asing.
“Hari ini saja sudah ada 12 wisatawan dari Belanda, Polandia, dan Jerman yang datang menikmati pengalaman unik memasak di dapur alam,” ujar Nasir.
Baca Juga: Peringatan Hari Pariwisata Dunia 2025 Digelar di Sumba Barat Daya, NTT
Wisata Budaya dengan Potensi Global