WartaPesona.com- Motif batik Truntum, simbol cinta dan kasih sayang, telah melambai dalam setiap pernikahan adat Jawa.
Asal-usulnya yang berkisah tentang Ratu Kencana menandai batik ini sebagai lebih dari sekadar corak, tetapi juga tarian cinta yang abadi, terpahat dalam sehelai kain.
Motif ini mengambil namanya dari Bahasa Jawa "taruntum," yang berarti tumbuh kembali atau bersemi kembali.
Baca Juga: Batik Sekar Jagad: Peta Indah Keragaman dalam Pencarian Kecantikan
Sejarah panjang batik Truntum membawa kita pada abad ke-18, ketika Ratu Kencana, dalam kecemburuan, melukiskan bintang dan bunga tanjung pada sehelai kain sebagai ungkapan perasaannya terhadap Sunan Pakubuwana III Surakarta Hadiningrat.
Dalam cerita yang mengharukan, goresan batik ini menjadi jembatan penyatuan kembali cinta di antara pasangan.
Motif Truntum bukan hanya sekadar gambar bunga, melainkan simbolik yang merangkul kehangatan cinta dan kasih sayang yang terus bersemi.
Baca Juga: Batik Parang: Dongeng Konsistensi dan Kesejahteraan dari Pangeran Jawa
Setiap kuntuman bunga adalah tanda perjalanan cinta yang tak pernah pudar. Melalui batik Truntum, kita memasuki panggung tarian cinta yang tak pernah surut.
Corak ini bukan hanya suatu motif, tetapi juga narasi indah tentang kisah cinta yang tumbuh dan bersemi kembali, tak lekang oleh waktu, seperti bunga yang mekar dalam kehangatan matahari.***