Di Ruang 3 inilah pengunjung bisa menyaksikan ragam motif batik pedalaman dan pesisir.
Batik pedalaman menampilkan ragam koleksi batik ningrat, dari motif batik untuk raja, kerabat raja, hingga bangsawan yang bukan ningrat.
Kemudian, Batik Pesisiran menampilkan motif batik khas pesisir Pekalongan yang menunjukkan akulturasi budaya setempat dengan Eropa, India, Tiongkok, dan Jepang.
Akulturasi budaya tersebut tak lepas dari sejarah Pekalongan di masa lalu yang pernah menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa Tengah pada abad 15 Masehi.
Baca Juga: Kasus perundungan di sekolah, efektivitas kurikulum Merdeka Belajar kembali dipertanyakan
Batik pesisir utara Jawa punya ciri khas warna yang cerah dan terang, dengan motif dan ragam hias bersifat naturalis.
Selain di Pekalongan, Batik Pesisiran ini juga banyak ditemui di daerah pesisir lain seperti Jakarta, Indramayu, Cirebon, Tegal, Kudus, Lasem, Tuban, Gresik, Sidoarjo, dan Madura.
Museum Batik Pekalongan ini tak sekadar menjadi ruang koleksi dan pameran. Pengunjung juga bisa belajar membatik dan mengenal ragam motif kedaerahan.
Jangan salah, Museum Batik Pekalongan ini bahkan mengantongi Sertifikat UNESCO dengan predikat Best Safeguarding Practice.
Sertifikat itu menunjukkan Museum Batik Pekalongan di Jawa Tengah ini sebagai institusi pelestari budaya batik melalui pelatihan batik kepada kalangan pelajar. Mulai dari tingkat dasar, menengah, atas, kejuruan, hingga politeknik. *(SA/K)