WartaPesona.com- Kebaya yang di pakai Dian Sastro, sebagai karakter Jeng Yah di serial "Gadis Kretek", berhasil memikat publik. Kebaya yang mirip dipakai oleh Dian Sastro, banyak diminati oleh publik baik di online shop, mau pun e-commerce.
Demi memiliki kebaya yang mirip dengan yang dipakai Dian Sastro, ada juga publik yang memesan langsung ke tukang jahit dan desainer.
Kebaya Dasiyah, memang memiliki keindahan, bahkan keunikan tersendiri. Kombinasinya yang terkesan feminitas, serta ketangguhan pada sosok yang memakainya.
Baca Juga: Pesona Eksklusif Teras Bhumi Glamping Dome Garden: Glamping Serba Putih di Pelukan Alam Bogor
Keindahan Kebaya Jeng Yah pada sosok lady boss
Dian Sastro yang tampil mengenakan kebaya jeng yah, sejak awal memang di publis dalam poster, pada foto dan video promosi Gadis Kretek.
Sesuai alur cerita filmnya yang mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan, kostumnya pun di desain sedemikian rupa.
Pada unggahan instagram milik pribadinya, Hagai Pakan, adalah sebagai fashion stylist Gadis Kretek, mengungkapkan bahwa memang Kebaya Dasiyah merupakan suatu bentuk interpretasi pada konsep lady boss.
Baca Juga: Pesona Surgawi Kledung: Eksplorasi Keindahan Persawahan Hijau di Pelukan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Temanggung
Busana tersebut, menggambarkan pemakainya sebagai sosok perempuan yang kuat, tanpa perlu menjadi maskulin.
Prinsip yang serupa pun membuatnya kemudian memlih batik bermotif parang di kebaya tersebut, lambang yang mengartikan perlawanan pada sosok tokoh utamanya, begitu pun dengan dipilihnya batik yang bermotif parang melambangkan sebuah perlawanan (bathin) Dasiyah.
Keunikan lain terdapat pada warna hitam, warna yang bermakna sebagai keteguhan dari karakter Dasiyah.
Baca Juga: Zodiak Aquarius hari Senin 13 November 2023, manfaatkan waktu luang bersama pasangan
"Mengenakan kebaya hitam di era dunia yang terus berkembang maju, merupakan bentuk keteguhan dari seorang Dasiyah. Pasalnya, warna hitam tidak akan berubah warnanya sekali pun tersiram oleh berbagai warna lain.
Begitu pun karakter Dasiyah!
Menurutnya (Hagai Pakan), kostum warna hitam sebetulnya tak lazim untuk sebuah film.
Namun hasil diskusi mendalam dengan sutradara yakni Kamila Andini, maka telah diputuskan warna hitam menjadi warna pilihan yang dipakai untuk karakter Dasiyah.
Hagai pun tak sanggup membayangkan warna lain, kecuali warna hitam untuk menjadi ciri khas dari karakter Dasiyah.
Dalam segi desain, Kebaya Jeng Yah adalah kombinasi surjan, kebaya janggan, serta kebaya klasik, sebagai simbol kompleksitas dari jiwanya yang begitu setia terhadap akar budayanya, namun juga siap untuk merubah dunia.
Batik parang memiliki nilai keindahan tersendiri dari sisi desainnya, wajar jika diminati oleh banyak kalangan. Motif batik parang pun memiliki unsur filosofis tentang perjuangan yang tak kenal menyerah atau putus asa.
Terlepas dari nilai unsur filosofisnya yang mendalam, namun kebanyakan dari Masyarakan Jawa, mempercayai bahwa motif batik ini, sebaiknya tidak untuk dipakai pada saat acara pernikahan.
Aji Setiowijoyo, lulusan Sastra Nusantara dari Universitas Gadjah Mada yang juga berprofesi sebagai produsen batik di daerah istimewa Yogyakarta, memberi pendapat terkait hal ini, bahwa mitos tersebut memang berkaitan dengan asal usul dari motifnya.
Aji menerangkan, bahwa parang bisa diartikan sebagai karang, atau bisa juga diartikan sebagai senjata. Konon, hal ini yang menjadi alasan terciptanya batik motif tersebut.
Karang yang dianggap sebuah karya otentik seorang Raja, oleh karena itu, seharusnya tidak dipakai oleh sembarang orang.
Aji pun menambahkan uraiannya tentang penjelasan motif tersebut, parang yang jika dimaknai dengan senjata, maka identik dengan kekerasan dan kekejaman, itu sebabnya motif batik parang dilarang untuk dipakai pada acara pesta pernikahan.***
Penulis : Feri Candra