Baca Juga: Mengoptimalkan Proses Bisnis untuk Keunggulan Kompetitif
Caranya dengan meletakkan busur di depan perut, sehingga bidikan didasarkan pada perasaan pemanah.
Gaya memanah ini sesuai dengan filosofi jemparingan yang tujuannya untuk melatih konsentrasi dan kepekaan batin.
Namun sebagai sebuah tradisi, tata cara jemparingan ini juga mengalami perubahan. Sebagian orang tidak membidik dengan posisi gandewa di depan perut. Namun, dengan posisi sedikit miring sehingga pemanah bisa membidik dengan mata.
Baca Juga: Melukis Keindahan Kota Nafplio: Memanjakan Mata dengan 5 Wisata yang Menakjubkan
Setelah sempat terancam punah, jemparingan ini rutin diadakan sebagai perlombaan atau sekadar hiburan. Beberapa komunitas di Yogyakarta juga membuatnya sebagai salah satu daya tarik wisata.
Kini, jemparingan gaya mataraman ini juga makin digemari oleh kalangan muda, hingga turis asing yang sengaja datang ingin belajar.*** (KKT)